MAKALAH FILSAFAT ILMU
HUBUNGAN SAINS DAN ISLAM
WRITTEN BY
MELISSA ANDRIANI RAZAK
E02414125
ENGLISH LITERATURE DEPARTMENT
CULTURAL SCIENCE FACULTY
MUHAMMADIYAH UNIVERSITY OF
GORONTALO
2016
BAB I
PENDAHULUAN
- Latar Belakang Masalah
Banyak orang
berasumsi bahkan berkesimpulan bahwa sains hanya untuk sains. Sains itu netral
dan tak pernah ada sains yang ditunggangi ideologi, kepercayaan atau agama tertentu.
Maka banyak orang yang berpendapat bahwa istilah "sains Islam" itu
hanya isapan jempol dan ilusi belaka. Bahkan, upaya-upaya islamisasi ilmu
pengetahuan yang dilakukan oleh beberapa kalangan selama ini hanya khayalan
belaka dan lebih ke arah justifikasi sains dengan dalil-dalil agama.
Itulah
beberapa kecurigaan umum yang terjadi di kalangan beberapa sarjana belakangan.
Namun, sebelum kita terburu-buru berkesimpulan seperti di atas, ada baiknya
kita mencoba kroscek lagi, apa betul sains itu netral, apa memang dalam Islam
tidak ada sains?
- Rumusan Masalah
Agar tidak terjadi kesimpang siuran dalam penyusunan
makalah ini, maka saya merumuskan masalah sebagai berikut:
ü Pandangan
Islam terhadap sains dan teknologi.
ü Tipologi
hubungan sains dan teknologi.
ü Penciptaan
alam semesta dalam hubungan sains dan Islam.
ü Pertemuan
Iman dengan sains.
ü Metode
mendamaikan antara Islam dengan sains modern.
C. Tujuan Penulisan
Ada beberapa
tujuan dalam pembuatan makalah ini yaitu :
ü Mahasiswa
mampu menjelaskan Pandangan Islam terhadap sains dan teknologi.
ü Mahasiswa
mampu menjelaskan Tipologi hubungan sains dan teknologi.
ü Mampu
menerangkan Tipologi hubungan sains dan teknologi.
ü Menjelaskan
Penciptaan alam semesta dalam hubungan sains dan Islam.
ü Menjelaskan
Pertemuan Iman dengan sains.
ü Menjelaskan Metode mendamaikan antara Islam
dengan sains modern.
D. Metode Penulisan
Metode yang digunakan penulis adalah metode kepustakaan yaitu memberikan
gambaran tentang materi-materi yang berhubungan dengan permasalahan melalui
literatur buku-buku yang tersedia, tidak lupa juga penulis ambil sedikit dari
media massa/internet. Dan diskusi mengenai masalah yang dibahas dengan
teman-teman.
BAB II
PEMBAHASAN
- PANDANGAN ISLAM TERHADAP SAINS DAN TEKNOLOGI
Islam memiliki kepedulian dan perhatian penuh kepada
ummatnya agar terus berproses untuk menggali potensi-potensi alam dan
lingkungan menjadi sentrum peradaban yang gemilang. Dalam konteks ini, tidak
ada pertentangan antara sains dan Islam, dimana keduanya berjalan seimbang dan
selaras untuk menciptakan khazanah keilmuan dan peradaban manusia yang lebih
baik dari sebelumnya.
Pandangan Islam terhadap sains dan teknologi adalah
bahwa Islam tidak pernah mengekang umatnya untuk maju dan modern. Justru Islam
sangat mendukung umatnya untuk melakukan penelitian dan bereksperimen dalam hal
apapun, termasuk sains dan teknologi. Bagi Islam, sains dan teknologi adalah
termasuk ayat-ayat Allah yang perlu digali dan dicari keberadaannya. Ayat-ayat
Allah yang tersebar di alam semesta ini merupakan anugerah bagi manusia sebagai
khalifatullah di bumi untuk diolah dan dimanfaatkan dengan
sebaik-baiknya.
Pandangan Islam tentang sains dan teknologi dapat
diketahui prinsip-prinsipnya dari analisis wahyu pertama yang diterima oleh
Nabi Muhammad SAW yang berbunyi:
اقْرَأْ
بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (١) خَلَقَ الإنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ
(٢)اقْرَأْ وَرَبُّكَ الأكْرَمُ (٣) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (٤)عَلَّمَ
الإنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (٥)
Artinya:"Bacalah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan. Dia Telah menciptakan manusia
dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, Yang mengajar
(manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya.
Artinya: "Sesungguhnya dalam
penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat
tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat
Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka
memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan
kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-si. Maha Suci Engkau, Maka
peliharalah kami dari siksa neraka. QS. Ali-Imran: 190-191).
Ayat-ayat di
atas adalah sebuah support yang Allah berikan kepada hambanya untuk
terus menggali dan memperhatikan apa-apa yang ada di alam semesta ini. Sebuah
anjuran yang tidak boleh kita abaikan untuk bersama-sama melakukan penggalian
keilmuan yang lebih progresif sehingga mencapai puncak keilmuan yang
dikehendaki Tuhan. Tak heran, kalu seorang ahli sains Barat, Maurice Bucaile,
setelah ia melakukan penelitian terhadap Alquran dan Bibel dari sudut pandang
sains modern, menyatakan bahwa:
"Saya menyelidiki keserasian teks Qur'an dengan sains modern secara objektif dan tanpa prasangka. Mula-mula saya mengerti, dengan membaca terjemahan, bahwa Qur'an menyebutkan bermacam-macam fenomena alamiah, tetapi dengan membaca terjemahan itu saya hanya memperoleh pengetahuan yang ringkas. Dengan membaca teks arab secara teliti sekali saya dapat menemukan catatan yang membuktikan bahwa Alquran tidak mengandung sesuatu pernyataan yang dapat dikritik dari segi pandangan ilmiah di zaman modern".
"Saya menyelidiki keserasian teks Qur'an dengan sains modern secara objektif dan tanpa prasangka. Mula-mula saya mengerti, dengan membaca terjemahan, bahwa Qur'an menyebutkan bermacam-macam fenomena alamiah, tetapi dengan membaca terjemahan itu saya hanya memperoleh pengetahuan yang ringkas. Dengan membaca teks arab secara teliti sekali saya dapat menemukan catatan yang membuktikan bahwa Alquran tidak mengandung sesuatu pernyataan yang dapat dikritik dari segi pandangan ilmiah di zaman modern".
Selain banyak memuat tentang pentingnya pengembangan
sains, Alquran juga dapat dijadikan sebagai inspirasi ilmu dan pengembangan
wawasan berpikir sehingga mampu menciptakan sesuatu yang baru dalam kehidupan.
Hanya saja, untuk menemukan hal tersebut, dibutuhkan kemampuan untuk
menggalinya secara lebih mendalam agar potensi alamiah yang diberikan Tuhan
dapat memberikan kemaslahatan sepenuhnya bagi keselarasan alam dan manusia.
Lebih jauh Osman Bakar mengungkapkan bahwa dalam
Islam, kesadaran religius terhadap tauhid merupakan sumber dari semangat Ilmiah
dalam sluruh wilayah pengetahuan. Oleh karena itu, tradisi intelektual Islam
tidak menerima gagasan bahwa hanya ilmu alam yang ilmiah atau lebih ilmiah dari
ilmu-ilmu lainnya. Demikian pula, gagasan objektivitas dalam kegiatan ilmiah
menurutnya tidak dapat dipisahkan dari kesadaran religius dan spiritual.
Kendati demikian, Alquran bukanlah kitab sains dan
terlebih lagi pada pendekatan Bucaillisme melekat bahaya besar. Yaitu
meletakkan sains ke dalam bidang suci dan membuat wahyu Ilahi menjadi objek
pembuktian sains Barat. Jika suatu teori tertentu yang "dibenarkan"
Alquran dan diterima luas saat ini, kemudian satu ketika teori ini digugurkan,
apakah itu berarti bahwa Alquran itu sah hari ini dan tidak sah hari esok? Yang
tepat dilakukan ilmuwan muslim adalah memposisikan Alquran sebagai petunjuk dan
motivasi untuk menemukan dan mengembangkan sains dan teknologi dengan ilmiah,
benar dan baik.
B. TIPOLOGI HUBUNGAN
SAINS DAN ISLAM
Dalam
kutipan Wahyu Nugroho, Gregory R. Peterson mencatat beberapa lembaga,
penerbitan, seminar dan konferensi yang diidentifikasi sebagai upaya membangun
model hubungan antara agama dan sains yang ideal dan ramai di pasaran, seperti
tulisan Ian G. Barbour lewat karyanya, Religion in an Age of Science
(1990), Nacey Murphy, Theology in the Age of Scientific Reasoning (1990),
Philip Hefner, The Human Factor (1993), Arthur Peacock, Theology for
a Scientific Age (1993), dan lainnya.
Di
Indonesia, kajian dan pandangan tentang Integrasi Sains dan Islam dalam
berbagai interdisiplin keilmuan masih marak dibicarakan para tokoh pendidikan.
Oleh karena demikian, maka berbagai universitas mencoba memberikan perhatian
khusus pada bidang kajian integrasi sains dan Islam ini. Salah satunya
Universitas Brawijaya Malang telah membuka Program Studi Magister Kajian
Integrasi Sains dan Islam (INSANI), dimana visi utamanya adalah menjadi
tempat kajian interdisiplin saintifik-islami,
serta pusat informasi tentang kajian integrasi sains dan Islam yang
bermanfaat bagi masyarakat, bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sementara Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang juga
telah membentuk sebuah forum yang mengkaji tentang model pendidikan integratif
dan model riset yang menintegrasikan sains dan Islam.
Ian G. Barbour selaku tokoh pengkaji
hubungan sains dan agama telah memetakan hubungan keduanya dengan membuka
kemungkinan interaksi di antara keduanya. Melalui tipologi posisi perbincangan
tentang hubungan sains dan agama, dia juga berusaha menunjukkan keberagaman
posisi yang dapat diambil berkenaan dengan hubungan sains dan agama terhadap
disiplin-disiplin ilmiah tertentu. Tipologi ini terdiri dari empat macam
pandangan, yaitu: Konflik, Independensi, Dialog, dan Integrasi yang tiap-tiap
variannya berbeda satu sama lain.
1. Konflik
Pandangan konflik ini mengemuka pada
abad ke–19 melalui dua buku berpengaruh, yakni History of the conflict
between Religion and Science karya J.W. Draper dan History of the
Warfare of Science with Theology in Christendom karya A. D. White.
Pandangan ini menempatkan sains dan
agama dalam dua ekstrim yang saling bertentangan. Bahwa sains dan agama
memberikan pernyataan yang berlawanan sehingga orang harus memilih salah satu
di antara keduanya. Masing-masing menghimpun penganut dengan mengambil
posisi-posisi yang bersebrangan. Sains menegasikan eksistensi agama, begitu
juga sebaliknya. Keduanya hanya mengakui keabsahan eksistensi masing-masing.
Adapun alasan utama para pemikir
yang meyakini bahwa agama tidak akan pernah bisa didamaikan dengan sains adalah
sebagai berikut:
a. Menurut mereka
agama jelas-jelas tidak dapat membuktikan kebenaran ajaran-ajarannya dengan
tegas, padahal sains dapat melakukan itu.
b. Agama mencoba
bersifat diam-diam dan tidak mau memberi petunjuk bukti konkrit tentang
keberadaan Tuhan, sementara dipihak lain sains mau menguji semua
hipotesis dan semua teorinya berdasarkan pengalaman.
Pertentangan antara kaum agamawan dan ilmuwan di Eropa
ini disebabkan oleh sikap radikal kaum agamawan Kristen yang hanya mengakui
kebenaran dan kesucian Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, sehingga
siapa saja yang mengingkarinya dianggap kafir dan berhak mendapatkan hukuman.
Di lain pihak, para ilmuwan mengadakan penyelidikan-penyelidikan ilmiah yang
hasilnya bertentangan dengan kepercayaan yang dianut oleh pihak gereja (kaum
agamawan). Akibatnya, tidak sedikit ilmuwan yang menjadi korban dari hasil
penemuan oleh penindasan dan kekejaman dari pihak gereja.
Contoh kasus dalam hubungan konflik ini adalah hukuman
yang diberikan oleh gereja Katolik terhadap Galileo atas aspek pemikirannya
tentang teori Copernicus, yakni bumi dan planet-planet berputar dalam orbit
mengelilingi matahari, padahal otoritas gereja meyakini bumi sebagai pusat alam
semesta. Oleh karena demikian maka Galileo diadili pada tahun 1633.
Sementara disisi lain, sebahagian saintis berasumsi
bahwa metode ilmiah merupakan satu-satunya sumber pengetahuan yang dapat
dipercaya dan dipahami. Penganut paham ini cenderung memaksakan otoritas sains
ke bidang-bidang di luar sains. Sedangkan agama, bagi sebahagian kalangan
saintis barat dianggap subyektif, tertutup dan sangat sulit berubah. Keyakinan
terhadap agama juga tidak dapat diterima karena bukanlah data publik yang dapat
diuji dengan percobaan dan kriteria sebagaimana halnya sains.
Barbour menanggapi hal ini dengan argumen bahwa mereka
keliru apabila melanggengkan dilema tentang keharusan memilih antara sains dan
agama. Sains dapat memurnikan agama dari kekeliruan dan klenik, sedangkan agama
dapat memurnikan sains dari keberhalaan dan keyakinan mutlak yang keliru.
Dengan keduanya lah (Agama dan Sains) kita mendapatkan pandangan yang lebih
luas dalam membangun keilmuan masa dewasa ini.
Jelaslah bahwa pertentangan yang terjadi di dunia
Barat sejak abad lalu sesungguhnya disebabkan oleh cara pandang yang keliru
terhadap hakikat sains dan agama. Adalah tugas manusia untuk merubah argumentasi
mereka, selama ilmu pengetahuan dan teknologi yang mereka kembangkan itu
bertentangan dengan agama. Sains dan agama mempengaruhi manusia dengan
kemuliaan Sang Pencipta dan mempengaruhi perhatian manusia secara langsung pada
kemegahan alam fisik ciptaan-Nya. Keduanya tidak saling bertolak belakang,
karena keduanya merupakan ungkapan kebenaran.
2. Independensi
Satu cara untuk menghindari konflik antara sains dan
agama adalah dengan memisahkan dua bidang itu dalam kawasan yang berbeda. Agama
dansains dianggap mempunyai kebenaran sendiri-sendiri yang terpisah satu sama
lain, sehingga bisa hidup berdampingan dengan damai. Pemisahan wilayah ini
tidak hanya dimotivasi oleh kehendak untuk menghindari konflik yang menurut
mereka tidak perlu, tetapi juga didorong oleh keinginan untuk mengakui
perbedaan karakter dari setiap era pemikiran ini.
Pemisahan wilayah ini dapat berdasarkan masalah yang
dikaji, domain yang dirujuk, dan metode yang digunakan. Mereka berpandangan
bahwa sains berhubungan dengan fakta, dan agama mencakup nilai-nilai. Dua
domain yang terpisah ini kemudian ditinjau dengan perbedaan bahasa dan fungsi
masing-masing.
Analisis bahasa menekankan bahwa bahasa ilmiah
berfungsi untuk melalukan prediksi dan kontrol. Sains hanya mengeksplorasi
masalah terbatas pada fenemona alam, tidak untuk melaksanakan fungsi selain
itu. Sedangkan bahasa agama berfungsi memberikan seperangkat pedoman,
menawarkan jalan hidup dan mengarahkan pengalaman religius personal dengan
praktek ritual dan tradisi keagamaan. Bagi kaum agamawan yang menganut
pandangan independensi ini, menganggap bahwa Tuhanlah yang merupakan
sumber-sumber nilai, baik alam nyata maupun gaib. Hanya agama yang dapat
mengetahuinya melalui keimanan. Sedangkan sains hanya berhubungan dengan alam
nyata saja. Walaupun interpretasi ini sedikit berbeda dengan kaum ilmuwan, akan
tetapi pandangan independensi ini tetap menjamin kedamaian antara sains dan
agama. Para saintis yang menganut pandangan independensi adalah seorang Biolog
Stephen Joy Gould, Karl Bath, dan Langdon Gilkey.
Sebagaimana dikutip oleh Ian G. Barbour, Karl Bath dan
pengikutnya, menyatakan beberapa hal tentang pandangan independensi, yakni
menurut mereka tuhan adalah transendensi yang berbeda dari yang lain dan tidak
dapat diketahui kecuali melalui penyingkapan diri. Keyakinan agama sepenuhnya
bergantung pada kehendak Tuhan, bukan atas penemuan manusia sebagaimana halnya
sains. Saintis bebas menjalankan aktivitas mereka tanpa keterlibatan unsur
teologi., demikian pula sebaliknya, karena metode dan pokok persoalan keduanya
berbeda. Sains dibangun atas pengamatan dan penalaran manusia sedangkan teologi
berdasarkan wahyu Ilahi.
Ian G. Barbour berkomentar bahwa "jika sains dan
agama benar-benar independen, kemungkinan terjadinya konflik bisa dihindari,
tetapi hal tersebut juga berefek pada memupus kemungkinan terjadinya dialog
konstruktif dan pengayaan di antara keduanya. Kita menghayati kehidupan bukan
sebagai bagian-bagian yang saling lepas. Melainkan kita merasakan hidup sebagai
keutuhan dan saling terkait meskipun kita membangun berbagai disiplin untuk
mempelajari aspek-aspeknya yang berbeda."
3. Dialog
Pandangan ini menawarkan hubungan
antara sains dan agama dengan interaksi yang lebih konstruktif daripada
pandangan konflik dan independensi. Diakui bahwa antara sains dan agama
terdapat kesamaan yang bisa didialogkan, bahkan bisa saling mendukung satu sama
lain. Dialog yang dilakukan dalam membandingkan sains dan agama adalah
menekankan kemiripan dalam prediksi metode dan konsep. Salah satu bentuk
dialognya adalah dengan membandingkan metode sains dan agama yang dapat
menunjukkan kesamaan dan perbedaan
Ian G. Barbour memberikan contoh
masalah yang didialogkan ini dengan digunakannya model-model konseptual dan
analogi-analogi ketika menjelaskan hal-hal yang tidak bisa diamati secara
langsung. Dialog juga bisa dilakukan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan
tentang ilmu pengetahuan yang mencapai tapal batas. Seperti: mengapa alam
semesta ini ada dalam keteraturan yang dapat dimengerti? dan sebagainya. Ilmuwan
dan teolog dapat menjadi mitra dialog dalam menjelaskan fenomena tersebut
dengan tetap menghormati integritas masing-masing.
Penganut pandangan dialog ini
berpendapat bahwa agama dan sains jelas berbeda secara logis dan linguistik,
tetapi dia tahu bahwa dalam dunia nyata mereka tidak bisa dikotak-kotakkan
dengan mutlak, sebagaimana diandaikan oleh pendekatatan indenpendensi.
Bagaimanapun juga agama telah membantu membentuk sejarah sains, dan pada
gilirannya kosmologi ilmiah pun telah mempengaruhi teologi.
Dalam diskusi-diskusi filosofis
dewasa ini tentang hakikat ilmu pengetahuan, cara-cara sains dan teologi
hampir-hampir tidak begitu berbeda, secara tidak langsung hubungan sains dan
agama tidak lagi dalam posisi konflik dan indenpendensi. Pada pendekatan dialog
ini sains tidak lagi tampak sangat murni dan objektif sebagaimana biasanya, dan
demikian pula teologi tidak tampak sangat tidak murni atau subjektif.
Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa
kesejajaran konseptual maupun metodologis menawarkan kemungkinan interaksi
antara sains dan agama secara dialogis dengan tetap mempertahankan integritas
masing-masing.
4. Integrasi
Pandangan ini melahirkan hubungan
yang lebih bersahabat daripada pendekatan dialog dengan mencari titik temu di
antara sains dan agama. Sains dan doktrin-doktrin keagamaan, sama-sama dianggap
valid dan menjadi sumber koheren dalam pandangan dunia. Bahkan pemahaman
tentang dunia yang diperoleh melalui sains diharapkan dapat memperkaya
pemahaman keagamaan bagi manusia yang beriman.
Ada tiga versi berbeda dalam integrasi, yaitu:
a. Natural Theology,
mengklaim bahwa eksistensi Tuhan dapat disimpulkan dari bukti tentang
desain alam, yang dengan keajaiban struktur alam membuat kita semakin menyadari
bahwa alam ini adalah karya Allah Swt. semata.
b. Theology Of
Nature, berangkat dari tradisi keagamaan berdasarkan pengalaman keagamaan
dan wahyu historis. Theology of Nature tidak berangkat dari sains sebagaimana
natural theology, Dalam theology of nature, ia berpendapat
bahwa sumber utama teologi terletak di luar sains, tetapi ia juga berpendapat
bahwa beberapa doktrin tradisional harus dirumuskan ulang dalam sinaran sains
terkini. Karena secara khusus, doktrin tentang penciptaan dan sifat dasar
manusia dipengaruhi oleh temuan-temuan sains.
c. Sintesis
Sistematis. Integrasi yang lebih sistematis dapat dilakukan jika sains dan
agama memberikan kontribusi kea rah pandangan dunia yang lebih koheren
yang dielaborasi dalam kerangka metafisika yang komprehensif.
Mencermati pandangan integrasi Sains dan agama akan
memberikan wawasan yang lebih besar mencakup sains dan agama sehingga dapat
bekerja sama secara aktif. Bahkan sains dapat meningkatkan keyakinan umat
beragama dengan memberi bukti ilmiah atas wahyu atau pengalaman mistis. Sebagai
contohnya adalah Maurice Bucaille yang melukiskan tentang kesejajaran deskripsi
ilmiah modern tentang alam dengan deskripsi Al Qur'an tentang hal yang sama.
Kesejajaran inilah yang dianggap memberikan dukungan obyektif ilmiah pada
pengalaman subyektif keagamaan. Pengakuan keabsahan klaim sains maupun agama
ini atas dasar kesamaan keduanya dalam memberikan pengetahuan atau deskripsi
tentang alam.
Pemahaman yang diperoleh melalui sains sebagai salah
satu sumber pengetahuan, menyatakan keharmonisan koordinasi penciptaan sebagai
desain cerdas Ilahi. Seperti halnya ketika memperhatikan bagian-bagian tubuh
manusia dengan strukturnya yang tersusun secara kompleks dan terkoordinasi
untuk tujuan tertentu. Meskipun Darwin melawan pandangan itu dalam teori
evolusi yang mengangggap bahwa koordinasi dan detail-detail struktur organisme
itu terbentuk karena seleksi alam dan variasi acak dalam proses adaptasi, namun
dia sendiri mengakui argumen desain Ilahi, akan tetapi dalam anggapan sebagai
penentu dari hukum-hukum proses evolusi itu yang membuka kemungkinan variasi
detail organisme tersebut.
Ada beberapa pendekatan yang digunakan dalam hubungan
integrasi ini. Pendekatan pertama, berangkat dari data ilmiah yang menawarkan
bukti konsklusif bagi keyakinan agama, untuk memperoleh kesepakatan dan
kesadaran akan eksistensi Tuhan. Pendekatan kedua, yaitu dengan menelaah ulang
doktrin-doktrin agama dalam relevansinya dengan teori-teori ilmiah, atau dengan
kata lain, keyakinan agama diuji dengan kriteria tertentu dan dirumuskan ulang
sesuai dengan penemuan sains terkini. Lalu pemikiran sains keagamaan
ditafsirkan dengan filasafat proses dalam kerangka konseptual yang sama.
C. PENCIPTAAN
ALAM SEMESTA DALAM HUBUNGAN SAINS DAN ISLAM
Dalam meninjau hubungan sains dan agama, Penulis akan
menunjukkan pandangan keempat tipe hubungan sains dan Islam terhadap satu tema
penting seputar penciptaan alam semesta menurut tesis konflik, independensi,
dialog, dan integrasi.
1. Konflik
Pandangan Konflik dihadirkan oleh kalangan Atheis yang
mengatakan bahwa keseimbangan gaya pada alam semesta yang menghasilkan kondisi
yang kondusif bagi munculnya kehidupan dan kecerdasan adalah kebetulan semata.
Menurut mereka, manusia secara kebetulan berada di dalam sebuah alam semesta
yang memungkinkan hadirnya kehidupan dan kecerdasan. Demikian pula pendapat
materialis ilmiah mengenai kosmologi mengarahkan manusia kepada faktor kebetulan
atau keniscayaan, bukan mengarahkan manusia kepada desain atau tujuan.
2. Independensi
Pada pandangan independensi, kalangan teolog mengklaim
adanya keharmonisan antara proses kosmik dengan Kitab Kejadian. Sejarah kosmik
yang menghasilkan pesona yang cerdas ditafsirkan sebagai ekspresi dari tujuan
Tuhan dan sebagai manifestasi sifat Tuhan yang cerdas dan personal.
Selanjutnya pendukung Independensi mengkalim bahwa
makna religius dari penciptaan dan fungsi penciptaan tidak ada kaitannya dengan
teori ilmiah tentang proses fisika kosmologi yang terjadi pada masa lalu.
Menurut mereka dunia tidak pula menjadi bagian dari Tuhan, atau berbeda dengan
Tuhan. Sejumlah Teolog berbagi pandangan bahwa kitab suci membawa gagasan yang
dapat diterima, tidak tergantung pada kosmologi sains. Sains dan agama melayani
fungsi yang berbeda dalam kehidupan manusia. Tujuan sains adalah memahami
hubungan sebab-akibat diantara fenomena-fenomena alam, sedangkan tujuan agama
adalah mengikuti suatu jalan hidup di dalam kerangka makna yang lebih besar.
Pemisahan tersebut menutup kemungkinan adanya hubungan positif dan koheren
antara sains dan agama.
3. Dialog
Pendukung tesis dialog mengatakan bahwa sains memiliki
perkiraan dan pertanyaan-pertanyaan batas yang tidak dapat dijawab sendiri oleh
sains. Maka untuk menemukan jawaban atas pertanyaan sains itu, mereka
menggunakan tradisi keagamaan dengan doktrin biblikal tentang penciptaan yang
memberikan konstribusi penting terhadap kemajuan sains tanpa merusak integritas
sains itu sendiri
4. Integrasi
Pendukung tesis integrasi merespon masalah kosmologi
ini dengan korelasi yang lebih dekat antara kepercayaan keagamaan dengan teori
ilmiah daripada yang dilakukan oleh pendukung tesis dialog. Gagasan mereka
adalah bahwa Tuhan benar-benar mengontrol semua peristiwa penciptaan yang
tampak oleh manusia sebagai kebetulan. Manusia dapat melihat desain proses
keseluruhan di dalam kehidupan yang terjadi dengan kombinasi dan ciri proses
tertentu. Keindahan bumi yang luar biasa mengekspresikan rasa syukur atau
berkah kehidupan, serta bentangan ruang dan waktu kosmos yang tak terbayangkan
memperlihatkan kerja Sang Pencipta yang diidentifikasi bertujuan sebagai
tatanan pemikiran bagi manusia bahwa segala sesuatu terjadi menurut perencanaan
yang sangat terperinci dan dalam kontrol total Tuhan.
Beberapa fisikawan memandang adanya bukti desain dalam
alam semesta ini. Dyson misalnya telah memberikan sejumlah contoh tentang
sejumlah peristiwa yang tampaknya mengarah ke terbentuknya alam semesta yang
dapat dihuni. Kemudian dia menyimpulkan bahwa semakin banyak dia
menelaah alam semesta dan mencermati detail arsitekturnya, semakin banyak bukti
yang saya temukan bahwa alam semesta dalam sejumlah pengertian telah mengetahui
keberadaan kita, artinya telah desain arsitekturnya telah dicocokkan dengan
kondisi biologis kita. Kaum beragama telah menggap hal ini sebagai bagian dari
desain Tuhan.
Setelah meninjau pandangan keempat tipe hubungan sains
dan agama dalam merespon masalah penciptaan, penulis lebih mendukung dan
mengakomodasi pendekatan integrasi dalam menghubungkan sains dan Islam, karena
dalam hubungan integrasi ini keanekaragaman realitas yang relatif terpadu
dengan Kesatuan Realitas yang Mutlak. Di mana realitas sains memiliki
konvergensi dengan realitas yang diungkapkan Alquran mengenai fenomena alam dan
manusia. Tanpa integritas keduanya, manusia akan terus menghadapi problematika
modernitas sains di tengah pesatnya perkembangan teknologi.
D. PERTEMUAN
IMAN DENGAN SAINS
Ada dua dorongan yang memandu
teologi Kristen sehingga dapat bertemu dengan sains, dan dorongan tersebut juga
mungkin dirasakan para pemikir Islam. Dorongan yang pertama adalah dorongan
yang bersifat inheren dalam iman untuk mendapatkan pemahaman lebih mendalam,
sedangkan dorongan yang kedua adalah dorongan ajaran agama dan tujuan sains
untuk menuju kebenaran
Pada dasarnya, Iman didasarkan atas
pewahyuan; tetapi dengan menghargai misteri yang melingkupi Tuhan pencipta
kita, iman berupaya keras untuk mendapatkan pemahaman lebih lanjut mengenai
hubungan yang rumit antara pencipta dan ciptaan-Nya. Dalam dunia modern,
secara dramatis ilmu pengetahuan telah menunjukkan kemampuannya untuk melakukan
penelitian yang progresif, yang menghasilkan kegairahan baru yang luar biasa
akan pengetahuan baru. Penghargaan yang tinggi terhadap keajaiban alam yang
dimungkinkan oleh ilmu pengetahuan itu sendiri merupakan sebuah peristiwa Roh
Tuhan di dalam jiwa manusia. Maka ketika iman menginginkan pemahaman yang lebih
menadalam, metodologi sains telah menjadi suatu kebutuhannya untuk meningkatkan
pemahaman akal ke puncak yang tertinggi.
Sementara disisi lain, ilmu dan iman
adalah dua kebenaran yang memiliki karakter yang berbeda, namun walaupun
demikian, agama telah menunjukkan bahwa Tuhan adalah realitas mutlak. Kebenaran
tentang apapun pada akhirnya juga benar dalam kaitannya dengan Tuhan. Iman kita
tidak bisa membangkitkan keyakinan apabila kita tidak meyakini kebenarannya.
Karena adanya komitmen teologis yang biarpun sangat vital tetapi implisit
terhadap kebenaran ini. Bagi pemikiran teologis, penelitian ilmiah memiliki
daya tarik bawaan. Sebab teologi seharusnya menemukan rekan dalam
laboratoriumnya.
Walaupum tampaknya ada peperangan di
beberapa medan pertempuran, sebuah iman yang beruapaya mendapatkan pemahaman
seharusnya juga mencari perdamaian antara ilmu dan teologi. Lebih daripada
sekedar perjuangan untuk mendapatkan dominasi intelektual, upaya pencarian
kebenaran mendorong kita memasang mata untuk mencari merpati perdamaian di
cakrawala.
E. METODE
MENDAMAIKAN ANTARA ISLAM DENGAN SAINS MODERN
Untuk menemukan konsep perdamaian
antara Islam dan sains modern, kita perlu memandang hubungannya dari perspektif
konsep Islam tentang alam dipandang secara keseluruhan dan dalam matriksnya
tersendiri, sebagaimana didefenisikan Alquran. Ini tidaklah mudah karena begitu
kita membawa nas wahyu ke dalam wacana kontemporer, akan segera muncul
sikap-sikap yang keras dan pintu-pintu perdamaian akan tertutup.
Wacana sains dan agama di Barat
dijelaskan dan terangkan dalam kerangka teologi dan sains, sekurang-kurangnya
tidak dalam arus utamanya. Namun hambatan terbesarnya barangkali adanya
pendapat yang menyejajarkan pandangan Islam dan pandangan fundamentalis
kristenan di Barat yang meletakkan al Kitab sebagai imbangan dalam wacana
hubungan sains dan agama sehingga pandangan tersebut tidak disukai di dunia akademis.
Namun dengan tetap menyadari hambatan ini, kita harus berpikir tentang wacana
Islam dan sains yang berakar secara murni dalam Alquran
Selanjutnya, wacana Islam dan sains
juga tidak dapat mencapai kemurniannya tanpa merujuk kembali keoada tradisi
saintifik Islam. Misalnya mempertanyakan apa yang Islami dalam sains Islam?
Bagamana tradsi saintifik Islam berakar dalam pandangan dunia Alquran, dan apa
yang terjadi dengan tradisi tersebut? Dan yang paling penting menjadi perhatian
juga adalah epitomologis mengenai status Alquran dalam kaitannya dengan sains
modern dan hakikat serta makna "ayat-ayat saintifik" dalam Alquran.
Begitu juga tentang konsep-konsep kosmos di dalam Alquran, hakikat perbuatan
Tuhan, serta hubungan Tuhan dengan makhluk sebagaimana yang didefenisikan oleh
Alquran. Semua hal tersebut tidak bisa diabaikan dalam wacana tentang Islam dan
Sains. Tentunya dengan mempertimbangkan itu akan memberikan tilikan tajam
mengenai terbentuknya struktur dasar sains modern dan kaitan antara struktur
filosofis yang mendasarinya dan pandangan dunia Islam. Hanya dengan demikian
itulah kita bisa membangun model-model dan metodologi-metodologi bagi wacana
Islam dan sains.
Selain daripada beberapa persoalan
di atas, ada banyak persoalan lain yang perlu dijelajahi. Persoalan-persoalan
tersebut mencakup seluruh isu yang berkaitan dengan etika dan syari'at
dalam kaitannya dengan cabang-cabang tertentu dari sains modern seperti
bioteknologi dan genetika.
BAB III
PENUTUP
Agama dan
sains dalam pentas kehidupan manusia adalah dua entitas yang berbeda sebagai
sumber pengetahuan dan sumber nilai bagi kehidupan manusia. Meskipun dalam
kerangka filosofis keduanya berbeda, tetapi dalam konteks historis pernah
dilakukan upaya-upaya konsolidatif, baik dalam bentuk kontraproduktif
maupun dalam bentuk mutualistik untuk mempertemukan keduanya.
Banyak
persoalan-persoalan fundamental dan juga yang berkaitan dengan etika dan
syari'at yang harus menjadi perhatian penting bagi para ilmuan dalam membangun
model-model dan metodologi-metodologi bagi wacana Islam dan sains.
Upaya
konsolidatif ini dilakukan agar diantara keduanya tidak menjadi instrumen dan
medium percekcokan dan sumber konflik bagi kehidupan manusia, tetapi sebaliknya
diupayakan menjadi sumber inspirasi untuk meningkatkan kearifan dan kesadaran
dinamis dalam diri manusia dalam hubungannya dengan alam (makrokosmos) dan
dalam hubungannya dengan sesama manusia (mikrokosmos) dan dalam
hubungannya dengan yang Ilahi (transcendental). Dengan demikian, baik
agama maupun sains sama-sama mengabdi untuk kepentingan kesejahteraan dan
kemakmuran manusia.
DAFTAR PUSTAKA
Bakar,
Osman, Tauhid dan Sains, Esai-Esain Tentang Sejarahdan Filsafat Sains
Islam,Penerjamah: Yuliani Liputo, Bandung: Pustaka Hidayah, 1995.
Masruri, Hadi & H. Imron Rossidy, Filsafat
Sains dalam Alquran: Melacak Kerangka Dasar Integrasi Ilmu dan Agama,
Malang: UIN-Malang Press, 2007.
Mulkhan, Abdul Munir, Kesalehan Multikultural:
Ber-Islam Secara Autentik-Kontekstual di Aras Peradaban Global, Jakarta:
PSAP, 2005.
Nugroho, Wahyu, Teologi Kristen dalam Konteks Sains;
Kajian Kritis atas Gagasan Arthur Peacocke", dalam Journal of
Religion Issues, I:01, 2003.
Peters, Ted, dkk ed., Tuhan, Alam, Manusia;
Perspektif Sains dan Agama, Penerj. Ahsin Muhammad, dkk, Bandung: Mizan, 2006.
[1] Pengantar Dr. Mohsen Miri dalam buku John F. Haught, Perjumpaan Sains
dan Agama; dari Konflik ke Dialog, (Bandung: Mizan, 2004), hlm. ix.
[2] Maurice Buccaile, Bible, Qur'an dan Sains Modern, terj; H.M. Rasjidi,
(Jakarta: Bulan Bintang, 1999), hlm. 10.
[3] Abdul Munir Mulkhan, Kesalehan Multikultural: Ber-Islam Secara
Autentik-Kontekstual di Aras Peradaban Global, (Jakarta: PSAP, 2005), hlm.
173.
[4] Osman Bakar, Tauhid dan Sains, Esai-Esain Tentang Sejarahdan Filsafat
Sains Islam,Penerjamah: Yuliani Liputo, (Bandung: Pustaka Hidayah, 1995),
hlm. 21.
[5]Hadi Masruri & H. Imron Rossidy, Filsafat Sains dalam Alquran:
Melacak Kerangka Dasar Integrasi Ilmu dan Agama, ( Malang: UIN-Malang
Press, 2007), hlm. 123.
[6] Wahyu Nugroho, Teologi Kristen dalam Konteks Sains; Kajian Kritis
atas Gagasan Arthur Peacocke", dalam Journal of Religion Issues, I:01, (2003).,
hlm. 23-43.
[7] Ian G. Barbour, Juru Bicara Tuhan, Antara Sains dan Agama, Terj. E.R.
Muhammad, (Bandung: Mizan, 2002), hlm. 54.
[8] John F. Haught, Perjumpaan Sains dan Agama; dari Konflik ke Dialog, (Bandung:
Mizan, 2004), hlm. 2.
[9] John F. Haught, Perjumpaan Sains dan Agama; dari Konflik ke Dialog, (Bandung:
Mizan, 2004), hlm. 3.
[10] Ian G. Barbour, Juru Bicara Tuhan, Antara Sains dan Agama, Terj. E.R.
Muhammad, (Bandung: Mizan, 2002), hlm. 55-56.
[11] Ian G. Barbour, Juru Bicara Tuhan, Antara Sains dan Agama, Terj. E.R.
Muhammad, (Bandung: Mizan, 2002), hlm. 65.
[12] John F. Haught, Perjumpaan Sains dan Agama; dari Konflik ke Dialog, (Bandung:
Mizan, 2004), hlm. 9.
[13] John F. Haught, Perjumpaan Sains dan Agama; dari Konflik ke Dialog, (Bandung:
Mizan, 2004), hlm. 13.
[14] Ian G. Barbour, Juru Bicara Tuhan, Antara Sains dan Agama, Terj. E.R.
Muhammad, (Bandung: Mizan, 2002), hlm. 66.
[15] Ian G. Barbour, Juru Bicara Tuhan, Antara Sains dan Agama, Terj. E.R.
Muhammad, (Bandung: Mizan, 2002), hlm. 74.
[16] Ian G. Barbour, Juru Bicara Tuhan, Antara Sains dan Agama, Terj. E.R.
Muhammad, (Bandung: Mizan, 2002), hlm. 74.
[17] John F. Haught, Perjumpaan Sains dan Agama; dari Konflik ke Dialog, (Bandung:
Mizan, 2004), hlm. 17.
[18] John F. Haught, Perjumpaan Sains dan Agama; dari Konflik ke Dialog, (Bandung:
Mizan, 2004), hlm. 18.
[19] Ian G. Barbour, Juru Bicara Tuhan, Antara Sains dan Agama, Terj. E.R.
Muhammad, (Bandung: Mizan, 2002), hlm.83-94.
[20] Ian G. Barbour, Juru Bicara Tuhan, Antara Sains dan Agama, Terj. E.R.
Muhammad, (Bandung: Mizan, 2002), hlm. 42-44.
[21] Ian G. Barbour, Juru Bicara Tuhan, Antara Sains dan Agama, Terj. E.R.
Muhammad, (Bandung: Mizan, 2002), hlm. 112-113.
[22] Ian G. Barbour, Juru Bicara Tuhan, Antara Sains dan Agama, Terj. E.R.
Muhammad, (Bandung: Mizan, 2002), hlm. 117.
[23] Ian G. Barbour, Juru Bicara Tuhan, Antara Sains dan Agama, Terj. E.R.
Muhammad, (Bandung: Mizan, 2002), hlm. 123.
[24] Ian G. Barbour, Juru Bicara Tuhan, Antara Sains dan Agama, Terj. E.R.
Muhammad, (Bandung: Mizan, 2002), hlm. 132.
[25] Ian G. Barbour, Juru Bicara Tuhan, Antara Sains dan Agama, Terj. E.R.
Muhammad, (Bandung: Mizan, 2002), hlm. 134.
[26] Ted Peters, dkk (ed.), Tuhan, Alam, Manusia; Perspektif Sains dan
Agama, Penerj. Ahsin Muhammad, dkk, (Bandung: Mizan, 2006), hlm. 165-166.
[27]Ibid.
[28] Ted Peters, dkk (ed.), Tuhan, Alam, Manusia; Perspektif Sains dan Agama,
Penerj. Ahsin Muhammad, dkk, (Bandung: Mizan, 2006), hlm. 59.
[29] Ted Peters, dkk (ed.), Tuhan, Alam, Manusia; Perspektif Sains dan
Agama, Penerj. Ahsin Muhammad, dkk, (Bandung: Mizan, 2006), hlm. 60.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar